

Sampai di mana kualitas ilmu yang telah kita peroleh? Sebab, kualitas keimanan seseorang memiliki hubungan yang sangat erat dengan ilmu yang dimilikinya. Allah ﷻ berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan untuk dosamu serta untuk dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.
(QS Muhammad: 19)
Karena itu …
“Seorang mukmin dituntut untuk terus belajar agar dapat mencapai ilmu yang mengantarkannya kepada rasa takut kepada Allah ﷻ”
Allah juga menyebutkan dalam Al-Qur'an bahwa orang yang memiliki ilmu adalah orang yang takut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.
(QS Fatir: 28)
Allah memerintahkan kita untuk terus belajar hingga mencapai ilmu yang dapat menumbuhkan rasa takut kepada-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin harus senantiasa meningkatkan ilmunya.
Ilmu memiliki tiga tingkatan:
- Ilmul Yaqin adalah ilmu yang diperoleh melalui informasi atau berita. Seseorang mengetahui keberadaan atau terjadinya sesuatu meskipun belum melihatnya langsung. Sebagai contoh, kita tahu bahwa ada sebuah sungai jernih karena diberitahu oleh orang lain, meskipun kita sendiri belum melihatnya.
- `Aynul Yaqin adalah ilmu yang diperoleh melalui penglihatan langsung. Ketika kita melihat sungai jernih dengan mata kepala sendiri, ilmu kita naik ke tingkat yang lebih tinggi, karena kita telah melihatnya secara nyata.
- Haqqul Yaqin adalah ilmu yang tidak hanya diketahui dan dilihat, tetapi juga dirasakan secara langsung. Ketika kita minum air dari sungai dan merasakan kesegarannya, maka ilmu kita mencapai puncaknya, yaitu Haqqul Yaqin.
Para ulama menjelaskan bahwa ilmul yaqin seperti ilmu yang kita miliki bahwa di sungai itu ada air. Kita tahu bahwa di sungai itu ada air, tetapi kita tidak melihatnya secara langsung. Kemudian setelah kita datang ke sungai tersebut dan melihat air di sana, ilmu kita semakin meningkat menjadi aynul yaqin, karena kita melihatnya dengan mata kepala kita. Yang ketiga, haqqul yaqin, yaitu ketika kita turun ke sungai itu dan meminum airnya. Keyakinan kita berada di puncak, karena kita merasakannya secara langsung.
Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah meyakini agama ini sebagaimana mestinya, berdasarkan berita-berita dari Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ?
Contohnya, tentang surga dan neraka. Kelak, kita akan melihat surga dan neraka. Orang-orang akan merasakan panasnya api neraka dan mencapai Haqqul Yaqin ketika api neraka membakar kulit mereka.
“Sebagian orang di dunia bahkan belum mencapai Ilmul Yaqin.
Mereka meragukan adanya hari akhir, surga dan neraka, sehingga hidup dalam kebimbangan dan tidak memahami tujuan dari amal yang mereka lakukan.”
Allah berfirman dalam surah At-Takatsur,
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.
(QS At-Takathur: 1)
Banyak orang sibuk mengumpulkan harta, membangun bisnis, memperbanyak rumah dan kekayaan, hingga mereka lupa akan kehidupan akhirat. Kondisi ini akan terus berlangsung sampai mereka masuk ke dalam kubur.
Orang-orang lebih yakin terhadap kehidupan dunia karena mereka dapat melihat dan merasakannya secara langsung. Padahal, seharusnya kita memiliki keyakinan bahwa semua kenikmatan dunia ini bersifat sementara.
Kita telah melihat banyak orang kaya dengan rumah mewah dan harta berlimpah, tetapi akhirnya mereka meninggalkan semuanya. Oleh karena itu, kita harus mencapai tingkat keyakinan bahwa segala sesuatu di dunia ini akan ditinggalkan. Allah berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).
(QS Al-Hijr: 99)
Keyakinan yang dimaksud di sini adalah kematian. Kita tidak hanya melihat orang lain meninggal, tetapi suatu saat kita sendiri akan mengalaminya. Allah juga berfirman dalam surah At-Takatsur,
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ، حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ، كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, hingga kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui.
(QS At-Takathur: 1-3)
Dari mana kita yakin akan adanya surga dan neraka? Kita belum pernah melihatnya, tetapi kita percaya karena Allah telah mengabarkan kepada kita melalui Al-Qur'an dan Rasul-Nya.
Bagaimana kita tahu bahwa Allah mampu menghidupkan kembali orang yang telah mati? Kita melihat bagaimana bumi yang kering dan mati menjadi subur kembali setelah Allah menurunkan hujan. Ini adalah bukti nyata yang seharusnya membuat kita semakin yakin.
Terkadang kita mempercayai sesuatu karena diberitahu oleh seseorang yang telah mencapai Ilmul Yaqin. Jika kita tahu bahwa orang tersebut tidak pernah berbohong, maka kita akan mempercayainya. Demikian pula dengan berita dari Allah dan Rasul-Nya yang kebenarannya terbukti setiap hari.
Jika kita memiliki Ilmul Yaqin, kita akan "melihat" neraka dengan hati kita. Kemudian, pada hari kiamat, kita akan benar-benar melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan saat itu, kita akan ditanya tentang semua kenikmatan yang telah kita rasakan di dunia ini.
Jika di dunia kita memiliki ilmul yaqin terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita, maka kita akan memiliki haqqul yaqin ketika kita merasakan nikmat itu dengan lisan dan panca indra kita. Berkaitan dengan haqqul yaqin ini, Allah berfirman dalam Surah Al-Haqqah,
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ، وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنْكُم مُّكَذِّبِينَ
"Sesungguhnya ini adalah Al-Qur'an yang mulia, dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada yang mendustakan."
(QS Al-Haqqah: 48-49)
Kenyataan Al-Qur'an adalah bahwa ada di antara manusia yang mendustakannya, dan sungguh hal itu akan menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir. Maka bertasbihlah kepada Allah yang Maha Agung. Allah mengingatkan bahwa kelak hari akhir adalah suatu kepastian, haqqul yaqin. Bagi siapa? Bagi orang-orang yang di dunia beriman kepada Allah. Adapun bagi orang-orang yang tidak beriman, mereka pun akan merasakan haqqul yaqin, yaitu bagaimana api neraka benar-benar membakar diri mereka.
Kembali kepada ilmu, kita perlu bertanya: sampai di mana batasan ilmu yang telah kita capai? Terkadang kita tidak bersemangat dalam beramal karena kurangnya keyakinan. Ketika kita bersedekah, jika kita benar-benar yakin bahwa Allah akan menggantikannya, maka sedekah itu tidak akan terasa berat.
Ketika seseorang berpuasa, ia menahan lapar dan haus, tetapi jika ia memiliki keyakinan bahwa puasa itu adalah ibadah yang dicintai Allah dan bahwa Allah telah menyiapkan pahala khusus bagi orang-orang yang berpuasa, maka puasa itu akan terasa ringan. Demikian pula dengan shalat dan seluruh bentuk ibadah lainnya. Nabi ﷺ bersabda,
يا بلال أقم الصلاة أرحنا بها
"Wahai Bilal, dirikanlah shalat, berikan ketenangan kepada kami dengannya."
(HR Abu Dawud: 4985)
Jika kita memiliki keyakinan penuh, kita akan merasakan istirahat dan ketenangan dalam shalat, serta menikmatinya karena telah mencapai tingkat keyakinan yang tinggi.
Terdapat beberapa cara untuk mendapatkan ilmu, serta tingkatan bagaimana seseorang memperoleh ilmu, di antaranya:
Husnu As-su'al – Pandai bertanya dengan pertanyaan yang baik, penuh adab dan etika. Allah berfirman,
فَسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui."
(QS An-Nahl: 43)
Husnu Al-Istima' – Mendengarkan dan memperhatikan dengan baik. Jika ingin mendapatkan ilmu, seseorang harus mendengarkan dengan baik dan sungguh-sungguh.
Husnu Al-Fahm – Memahami ilmu dengan benar, tanpa fanatisme atau niat buruk. Pemahaman yang benar adalah yang mengikuti pemahaman para sahabat Nabi yang sangat memahami ajaran agama Allah.
Al-Hifdz – Menghafal. Ilmu perlu dihafal agar tidak hilang. Menghafal Al-Qur'an, doa-doa, dan penjelasan dari Rasulullah sangat penting. Para ulama menyebutkan bahwa orang yang menghafal lebih banyak akan lebih layak menjadi imam dalam shalat.
Mengajarkan ilmu – Agar ilmu semakin matang dan berkembang, seseorang harus mengajarkannya kepada orang lain. Ilmu yang diajarkan akan bertambah dan semakin melekat dalam diri.
Mengamalkan ilmu – Ilmu harus diamalkan agar tidak hilang. Jangan hanya menyampaikan ilmu kepada orang lain tanpa mengamalkannya sendiri.
Sebaliknya, terdapat enam penghalang ilmu yang harus dihindari:
Malas bertanya – Merasa sudah cukup pintar dan tidak perlu belajar lebih lanjut, padahal Allah memerintahkan untuk bertanya kepada orang berilmu jika tidak mengetahui.
Tidak menyimak dengan baik – Ketika seorang ustaz menyampaikan ilmu, ada orang yang sibuk dengan ponselnya atau mengobrol dengan temannya, sehingga kehilangan kesempatan untuk memahami ilmu.
Pemahaman yang buruk – Mengikuti hawa nafsu dalam memahami dalil tanpa bimbingan yang benar dapat menyebabkan pemahaman yang keliru.
Tidak menghafal – Jika seseorang tidak mencatat atau menghafal ilmu yang didapat, maka ilmu itu akan mudah terlupakan.
Tidak mengajarkan ilmu – Meskipun telah belajar bertahun-tahun, jika ilmu tidak diajarkan, maka ia akan hilang dan tidak berkembang.
Tidak mengamalkan ilmu – Ilmu yang tidak diamalkan akan perlahan-lahan hilang dari ingatan dan hati seseorang.
Semoga kita semua dapat menjaga ilmu yang kita miliki dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu harus selalu disertai dengan amal. Semoga kita mencapai ilmul yaqin, kemudian Allah mengantarkan kita kepada aynul yaqin, dan pada akhirnya haqqul yaqin, ketika kita merasakan kenikmatan surga dengan mata kepala kita sendiri.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbana atina fid dunya hasanah, wafil akhirati hasanah, wakina azab an-nar.
"Ya Rabb, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka."
Sumber tulisan diambil dari kajian, “Sampai manakah Ilmuku? - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.”
Youtube Terbaru





Artikel Terbaru




