Menjadi Muslim yang Profesional, Amanah dan Produktif
Menjadi Muslim yang Profesional, Amanah dan Produktif

                       Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk amanah dan profesional dalam bekerja. Di dalam sirah disebutkan bahwa sejak kecil, beliau menggembalakan kambing dan telah diajak dalam perjalanan untuk berdagang. Ketika umurnya menginjak 25 tahun, beliau sendiri yang berangkat ke negeri Syam untuk berdagang membawa barang-barang milik Khadijah radhiyallahu’anha. Sebagai umatnya, sudah sepantasnya kita meneladani perilaku Rasulullah ﷺ, dalam firman-Nya Allah ﷻ menyebutkan,

 

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

(QS Al-Ahzab: 21)

 

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Ath-Thabrani, kala itu beliau ﷺ bermaksud meluruskan pandangan para sahabat ketika tampak seseorang yang amat sabar dan bersemangat melintas di hadapan mereka, para sahabat menyayangkan karena kedua hal itu tidak digunakan untuk berjihad di jalan Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ berkata,

 

إنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ

“Apabila dia keluar (rumah) untuk berusaha (mencari penghasilan)  karena anaknya yang masih kecil, maka itu di jalan Allah Ta'ala. Apabila dia keluar (rumah) berusaha (mencari penghasilan) karena kedua orang tuanya yang sudah tua renta, maka itu di jalan Allah Ta'ala. Apabila dia keluar (rumah) untuk berusaha (mencari penghasilan) bagi dirinya dalam rangka menjaga sifat 'iffahnya (menjaga kehormatan untuk tidak minta-minta), maka itu adalah di jalan Allah Ta' ala.  Apabila dia keluar (rumah) untuk berusaha (mencari penghasilan) karena riya’ dan bangga, maka itu di jalan setan".


Ketika seseorang bekerja dengan niat yang benar, seperti memberikan nafkah kedua orangtuanya, anak-anaknya, ataupun bekerja dalam rangka menjaga kehormatan dirinya sehingga ia tidak menjadi beban di masyarakat seperti mengambil hak orang lain, maka orang tersebut sejatinya sedang berada di jalan Allah.  



Akan tetapi, jika ia bekerja dalam rangka riya’ dan untuk membanggakan dirinya, maka ia tidak lain sedang berada di jalan yang sesat. Dan lagi-lagi semua itu bergantung pada niatnya.

            Dalam hadits yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda,

 

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (HR Bukhari).

 

Bahkan Nabi Daud ‘alaihissalam yang merupakan seorang raja memilih untuk makan dari hasil usahanya sendiri, bukan dari kekuasannya. Islam adalah agama yang memerangi kemalasan. Alangkah sedihnya kita melihat fenomena banyak orang yang meminta-minta di berbagai tempat. Sedangkan Rasulullah ﷺ bersabda,

 

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلًا فَيَأْتِيَ الْجَبَلَ فَيَحْتَطِبَ مِنْهُ فَيَبِيعَهُ فَيَأْكُلَ وَيَتَصَدَّقَ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا

"Sekiranya salah seorang dari kalian mengambil talinya dan pergi ke gunung, lalu ia mencari kayu bakar dan menjualnya, sehingga dengannya ia bisa bersedekah, itu lebih baik baginya daripada meminta-minta sesuatu kepada manusia."

(HR Bukhari)

 

Seorang Muslim hendaknya menjadi seseorang yang memberikan kontribusi kepada masyarakat. Malas bukanlah sifat yang patut dipelihara dalam diri seorang Muslim dan hendaknya kita berlindung darinya. Rasulullah ﷺ mengajarkan pada kita sebuah do’a yang juga selalu beliau baca di setiap pagi dan petang,

 

رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَسُوءِ الْكِبَرِ

“Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan di hari tua.”

 

Dalam hadits Riwayat imam bukhari dan muslim, Rasulullah ﷺ juga berdoa,

 

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas.”

           

Seorang mukmin yang kuat baik secara imannya dan kegigihannya, lebih dicintai oleh Allah ﷻ daripada mukmin yang lemah. Nabi ﷺ mengatakan,

 

اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ

“Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.”

(HR Muslim)

 

            Al-Raghib al-Isfahani menyebutkan bahwa “Siapa yang menganggur dan tidak bekerja, seakan–akan keluar dari kemanusiaannya,bahkan dari kebinatangan, dan ia dianggap sebagai bagian dari kelompok orang mati.”  

            Terdapat dua kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pekerja muslim dan seharusnya kita senantiasa mengusahakan untuk memenuhinya. Seorang muslim haruslah professional, memiliki kredibilitas di bidang yang digarapnya, serta memiliki integritas. Allah ﷻ berfirman,


قَالَتْ إِحْدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’"

(QS Al-Qasas: 26)

 

Ayat ini mengisahkan tentang nabi Musa ‘alaihissalam yang membantu kedua putri nabi Syu’aib memberi minum ternak-ternak mereka. Beliau melakukannya dengan sukarela sehingga tampak kekuatan dan amanah beliau. Maka seorang mukmin akan menghadirkan di dalam hatinya bahwa Allah ﷻ senantiasa melihat apa yang ia perbuat. Tingkatan tertinggi dalam beragama adalah ihsan, yakni beribadah kepada Allah ﷻ seakan-akan kita melihat Allah.

Dalam firman-Nya yang lain yang berbunyi,

 

قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.’"

(QS Yusuf: 55)

 

Allah ﷻ mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf mengajukan dirinya untuk mengatur perbendaharaan Mesir saat itu karena beliau memiliki sifat pandai menjaga (Amanah) serta berpengetahuan (cakap dalam bidangnya). Sayangnya, kedua sifat ini sulit ditemukan pada diri seseorang. Kenyataannya, ada orang yang amanah, ahli ibadah, bahkan tidak ingin memakan yang bukan haknya, namun lemah secara keilmuan dan keahlian. Di sisi lain, ada yang memiliki kredibilitas, berpengalaman, memiliki Pendidikan dan gelar yang prestisius, tetapi ia tidak amanah dan tidak berintegritas. Sehingga fenomena seperti banyaknya pejabat yang harus berakhir di penjara bukan karena hasil pekerjaannya yang tidak bagus melainkan karena ia tidak Amanah adalah hal yang lumrah.

            Rasulullah ﷺ mengajarkan, muslim haruslah profesional. ada aturan yang harus dipenuhi dan pekerjaan yang wajib untuk diselesaikan. Dalam hadits Riwayat Abu Daud rasulullah mengatakan,

 

وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Dan kaum Muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram.”

 

               Pada Qur’an surah Al-Mu’minun ayat 8, Allah ﷻ menyebutkan sifat-sifat yang dimiliki oleh orang beriman, bukan hanya sholat, ada kriteria lain yang harus dipenuhi dalam diri seorang muslim.

 

وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,”

 

Standar yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang baik bukan hanya hablumminallah (hubungan dengan Allah) seperti sholat tepat waktu, mengaji, puasa sunnah, dan berdzikir. Namun seorang mukmin hendaknya menjalankan amanah yang dipikulnya dan menepati janji yang ia buat.

            Ketika seorang muslim bekerja, ia wajib untuk menjalankan tugas tersebut secara maksimal dan sempurna sehingga ia dapat meraih cinta Allah ﷻ. Karena Allah ﷻ cinta kepada manusia yang tatkala bekerja totalitas dan menyempurnakan pekerjaannya Bukan hanya untuk mendapatkan gaji semata. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Aisyah radhiyallahu’anha berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional”

 

Seorang mukmin juga tidak akan pernah sedikitpun memakan hak orang lain. Banyak orang yang seringkali merasa terburu-buru ingin cepat sukses dan kaya, sehingga membutakannya dari membedakan hal yang halal dan haram. Rasulullah ﷺ bersabda,

 

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (Hilyatul Auliya 10/12)

 

            Bertaqwa artinya kita merasa bahwa Allah ﷻ senantiasa melihat kita. Sehingga apapun yang kita lakukan tidak akan terlepas dari pengawasan-Nya, termasuk dalam urusan bekerja. 


Ketika dalam mengais rezeki kita menggunakan cara yang dzalim hanya karena merasa rezeki itu sangat lambat untuk diperoleh, maka bersiaplah harta tersebut akan berubah menjadi bencana. Meskipun harta itu sangat berlimpah ruah, tetapi sampai kapanpun tidak akan pernah mendatangkan berkah. 



Sebab yang ada di sisi Allah ﷻ tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketaatan. Ada sebuah istilah yang disebut (هدايا العمال) atau hadiah untuk pekerja. Mengenai hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda,

 

فَهَلّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أبِيهِ أوْ بَيْتِ أُمِّهِ، فَيَنْظُرَ يُهْدى لَهُ أمْ لاَ؟ والَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَأْخُذُ أحَدٌ مِنهُ شَيْئًا إلّا جاءَ بِهِ يَوْمَ القِيامَةِ يَحْمِلُهُ عَلى رَقَبَتِهِ

“Mengapa orang yang ditugaskan tersebut tidak duduk saja di rumah orang tuanya, lalu dilihat apakah hadiah tersebut akan datang kepadanya atau tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah seseorang mengambil sesuatu dari harta ini kecuali akan datang pada hari kiamat sambil membawa harta tersebut di lehernya.” (HR Bukhari no. 2597).

 

            Jika hadiah tersebut diberikan karena pekerjaannya dan bukan karena ada rasa cinta atau persaudaraan di antara mereka, maka tidak pantas bagi seorang Muslim untuk mengambil hadiah tersebut.

            Ketika seorang Muslim bekerja, ia akan berusaha menyempurnakan pekerjaannya, di samping itu ia juga akan berusaha untuk meningkatkan ilmunya dan menjaga diri dari memakan sesuatu yang bukan haknya.

            Alangkah mirisnya melihat seseorang yang memiliki kemampuan, tapi ia tidak produktif dan memanfaatkan kemampuannya dengan baik karena banyaknya godaan. Maka seorang muslim harus berusaha mengontrol nafsunya. Banyak dari kita yang terbiasa menunda-nunda sehingga apa yang kita kerjakan tidak selesai, sedangkan waktu terus berjalan dan pahala pun tidak kunjung bertambah. Selain mengontrol nafsu, yang tidak boleh terlupakan yaitu meminta pertolongan kepada Allah ﷺ karena tanpa pertolonganNya akan sulit untuk mengontrol jiwa kita. Kemudian, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah memperbanyak dzikir. Sebab sumber dari kemalasan itu datang  dari godaan setan.

 


(Sumber tulisan diambil dari kajian: "Menjadi Muslim yang Profesional, Amanah, dan Produktif - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.", Sabtu, 12 Jumadil Akhir 1443 Hijriah / 15 Januari 2022 Masehi)